Selalu saja ada kejutan dalam tiap kesempatan. Apa pun itu, manusia tak seharusnya berprasangka. Hufh, aku menyadari, prasangka buruk “level akut” yang menderaku adalah “penyakit” yang harus segera disembuhkan. tetapi, bagaimana ia bisa sembuh? Adakah dokter hebat dan obat yang cukup mujarab untuk mengatasinya?
Semua bermula, pada masa di mana aku tak seharusnya berbuat. Sayangnya, hal itu telah menjadi sejarah dalam detik-detik masa lalu yang telah mengaku. Apa pula respon dari segelintir manusia yang papa tetapi berkekuatan tinggi menenggelamkanku dalam kesendirian? Apa itu yang mereka anggap sebagai pembenahan atas kesalahan yang aku sendiri masih tak mau mengakuinya?
Sekelebat tanya, atau pertanyaan muncul, lalu hilang diterpa badai. Selalu begitu. Sampai akhirnya, badai-badai yang belum berhenti mengoyak raga dan sukma itu berseteru penuh pada diri yang cuma satu. Hampir sirnalah ia karena tak ada batu karang atau sesuatu untuk menahan gempuran para angin yang mengganas. Untung saja, ada lubang di dalam tanah yang menyelamatkannya.
Sekali lagi, ini cuma masalah persepsi. Manusia terlanjur parah mempersepsi, membuat orang yang dipersepsi menjadi linglung, karena ia menjadi manusia yang bukan dirinya sendiri. Ah, Kawan… Semuanya terus berlalu… Mari kita pikirkan masa depan dan hari ini saja.


Membaca tulisan ini rasanya jadi ingat Sutardji Calzoum Bachri,…
Bagus,…
Btw, widget “Subscribe”nya dikeluarkan saja, jadi biar yang tertarik dengan tulisan sampeyan bisa berlangganan,…
ditunggu tulisan2 selanjutnya ya,…
Sip! Alirkan saja lewat tulisan. Sering sekali jadi dialog yang bagus untuk diri sendiri
kuat, Mas Ivan! Salam dari Mas Heri. Beliau minta nomer HPmu. Gpp ya aku kasih?
@Mas Harbun: lha, saya aja belum pernah baca tulisannnya Sutardji Calzoum Bachri je… kebetulan aja kalee… Oke, widget sedang diupayakan….
@Mulki: hehehehehe… lagi “sesuatu” ya jadi kayak gini.. Nulis gak jelas… Mas heri biar sms aku, gak papah… asal boleh sama istrinya aja…