Gagal, yang dalam bahasa Inggris memiliki persamaan dengan kata failed atau unsuccessfull ini merupakan momok yang bisa membuat seseorang berbalik arah dari harap menjadi putus asa. ga·gal v 1 tidak berhasil; tidak tercapai (maksudnya): keinginannya untuk menjadi juara –; 2 tidak jadi: tahun ini panen –;
Gagal hanyalah persepsi seseorang dalam memandang realita kehidupan ini. Kegagalan yang ada dalam persepsi kita adalah suatu rahasia Ilahi yang tidak boleh kita kutuki. Karena pada dasarnya, Allah tidak akan memberikan sesuatu yang tidak baik bagi hambaNya. Seperti dalam Al Qur’an Surat Al-Baqarah: 216, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Maka, solusi mengatasi kejadian-kejadian yang secara umum disebut “gagal” ini adalah mengubah persepsi kita atas jekadian itu. Kita harus senantiasa percaya bahwa Sang Pencipta (bukan secara kebetulan) telah mengatur kehidupan kita sampai pada detil yang bahkan tidak kita pahami.
Sebut saja Noval Bramantyo, S.Si, Sp. Asy. Siapa yang menyangka bahwa konsultan di salah satu perusahaan asuransi terkemuka di Indonesia ini telah melewati begitu banyak hambatan dalam hidupnya, atau mungkin bisa kita katakana “kegagalan dalam hidup”, sebelum akhirnya secara gemilang, potensi dan persepsi yang ada diarahkan untuk senantiasa menuju kepada perbaikan.
Sebelas tahun silam, pada tahun 2000, ketika ia lulus SMA, keinginan terbesarnya adalah lolos UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan menjadi mahasiswa pada jurusan Teknik Elektro UNDIP, Semarang. Keinginan masuk ke TE UNDIP telah menghunjam keras dalam tekadnya sejak ia berkenalan dengan mata pelajaran elektronika di SMAN 1 Jepara. Maka, untuk meraih mimpi itu, ia rela kos di Semarang untuk mengikuti bimbingan belajar selama satu bulan lebih. Maklum, jarak Semarang – Jepara sekitar 80 km.
Setelah berikhtiar dengan mengikuti bimbel, akhirnya hari ujian tiba. Ujian dilaksanakan pada bulan Juni 2000 di kampus UNDIP Semarang. Dengan kemantapan tinggi, Noval optimis ia akan diterima di TE UNDIP. Saat itu, pilihan pertamanya adalah Teknik Elektro UNDIP, sedangkan pilihan kedua adalah Fisika FMIPA UNS Surakarta.
Sebulan berselang, pada hari Senin, 3 Juli 2000, pengumuman dilaksanakan panitia penyelenggara UMPTN melalui koran. Dengan PD (Percaya diri-red), Noval yakin, seyakin-yakinnya bahwa ia akan diterima di Teknik Elektro UNDIP. “Setidaknya, kalau tidak di sana, ya di Fisika UNS,” begitu ceritanya. Hari pertama ia tidak melihat sendiri pengumuman. Hari kedua, ia masih belum melihat koran, malah justru tetangganyalah yang memberi tahukan bahwa Noval diterima. Akhirnya, kode studi pilihan pada pengumuman ia cocokkan. Ternyata, tak seperti yang ia harapkan, ia diterima di Fisika FMIPA UNS.
Noval sangat kecewa dengan hasil tersebut. Dirinya belum bisa melihat masa depan jika ia mengambil kuliah di Fisika UNS. “Itu bukan pilihan pertama,” ceritanya sambil mengenang kejadian sebelas tahun silam itu. Karenanya, ia mendaftar jalur non regular seminggu setelah pengumuman untuk jurusan yang sama, Teknik elektro UNDIP. Ujian dilaksanakan dua minggu setelahnya. Nasib telah berujar, Noval sekali lagi tidak diterima dalam ujian itu. Belum puas juga, ia pun mendaftarkan diri di D3 Politeknik UNDIP dan jalur non regular Teknik Elektro UGM. Setelah tes, pengumuman ujian di UGM lebih dahulu dilaksanakan. Hasilnya, sekali lagi Noval tak berhasil.
Masih ada harapan untuk diterima di D3 Politeknik UNDIP, itulah keyakinan Noval sampai hari terakhir daftar ulang di UNS. Daftar ulang mahasiswa baru UNS berlangsung dari jam 08.00 sampai 14.00. Sedangkan pengumuman D3 Politeknik dilksanakan panitia pukul 10.00. Hari itu, Noval telah berada di kampus UNS. Berkas daftar ulang sudah di tangan. Hanya saja, pembayaran registrasi belum ia lakukan. “Saya masih berharap diterima di UNDIP,” terangnya.
Waktu berlalu. Ternyata, pengumuman diundur sampai jam 11.00. Ayah Noval lah yang menunggu pengumuman di UNDIP. Saat itu, hand phone belum semenjamur sekarang. Begitu juga dengan noval, belum punya HP. Maka, setelah jam 11.00 ada pengumuamn D3 UNDIP, ayahnya menelepon kakak Noval yang kos di dekat UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta). Baru kemudian kakaknya naik motor menuju kampus UNS menemui Noval. Memang, begitulah takdir berkehendak, NOval sekali lagi tak berhasil masuk ke Jurusan Teknik Elektro.
Semua perasaan menumpuk saat itu. Akhirnya, Noval melakukan registrasi ulang mahasiswa baru ke Jurusan Fisiska FMIPA UNS dengan motivasi semata, tak ingin menjadi pengangguran. Ia belum merasa puas dengan hasil itu. Dalam benaknya, masih ada tahun depan untuk ke sekian kalinya mencoba mendaftar ke jurusan Teknik Elektro UNDIP.
Semester I dan II kuliah, karena Noval mengikuti perkualiahan dengan seadanya, nilainya jeblok. Di bawah 3.00 untuk konversi nilai 4.00. Akhirnya, sejak berkenalan dengan Sentra Kegiatan Islam (SKI) FMIPA UNS dan bertemu dengan para pengurus, muncullah sebuah titik terang dalam hidupnya. Setelah perenungan lama, ia kahirnya menyadari, Tuhan tidak akan memberikan yang buruk kepada hambaNya. “Saya percaya Allah bersama hambaNya,” kata Noval.
Terlebih lagi, ia mengevaluasi diri, melihat berapa kali ia telah berusaha masuk TE UNDIP. Sebanyak itu pula ia gagal. Maka, ia meyakini bahwa pas ti ada rencana lain dari Allah yang lebih baik. Ia pun menerima takdirnya untuk terus belajar di Fisika FMIPA UNS dengan lapang dada. Akhirnya, di penghujung semester II, ia membatalkan niatnya untuk mencoba mendaftar ke UNDIP.
Semster III, semangatnya untuk belajar muncul. Apalagi, memang sejak SMP, Noval menguasai materi Fisika. Ia akhirnya menyadari, ada peluang besar kuliah di Jurusan Fisika FMIPA UNS, yaitu pemanfaatan lab yang belum maksimal. Ia dan teman-temannya pun berkonsolidasi lalu meminta izin kepada dosen untuk mendirikan komunitas mahasiswa Fisika yang memanfaatkan lab computer yang belum maksimal.
Di lab itu, ia dan teman-temannya tidur, membuat video praktikum, melakukan percobaan-percobaan dan membuat simulasi-simulasi praktikum menggunakan flash atas arahan dosen. Ia menekuni bidang fisika yang masih terkait dengan pelajaran elektronika seperti ilmu komputasi dan pemrograman. Maka, tak heran jika ia mendapat nilai 3,5 ke atas dalam praktikum. Hal ini pulalah yang akhirnya membuat ia dipercaya menjadi asisten praktikum oleh dosennya.
Selama masa-masa “kebangkitannya” itulah, Noval menemukan makna hidupnya, bahwa hidup adalah saat ini, bukan masa lalu. Hidup itu harus dijalani. Ia pun menyadari bahwa Allah telah menetukan segala sesuatu yang terbaik untuk manusia, maka harus disyukuri. “Ada rencana besar Allah pada masa depan kita,” terangnya.
Sekarang, ia telahmenjadi seorang konsultan asuransi terkemuka berbasis syariah. Pekerjaan yang ia geluti memang tidak linier dengan studi yang ia jalani. Tetapi, secara bijak, NOval mengatakan,” Ketika saya tetap di Fisiska, bukan untuk mencari kerja. Tetapi saya memang menyukai dunia Fisika.” Dengan ilmu-ilmu alam pula, ia merasa dekat dengan kekuatan Allah.


Hai,wakarimashita…. Ganbatte Kudasai…..!!!!
hohohohoho.. arigato…