Taguh dalam Prinsip

Istiqomah, jika dirunut ke akar katanya, berasal dari kata qoomaa, yang artinya tegak, berdiri. Secara definisi, istiqomah bermakna memiliki pendirian  yang kuat/komitmen dalam mempertahankan nilai-nilai Islam dan memperjuangkan penegakannya secara konsisten hingga akhir hayat kita. Dalam bahasa sehari-hari, istiqomah kita kenal dengan sebutan konsisten. Konsisten menurut KBBI adalah  tetap (tidak berubah-ubah); taat asas; ajek; 2 selaras; sesuai: perbuatan hendaknya–dng ucapan. Artinya, terdapat keselarasan dalam kehidupannya.

Banyak orang bisa membuat rencana dengan baik, tetapi dalam pelaksanaannya tidak cukup konsisten mengarahkan kepada suatu tujuan tertentu. Hal tersebut mengakibatkan tidak munculnya keselarasan yang diharapkan; bahkan justru menggoyahkan tujuan dan memunculkan kebimbangan oleh berbagai tarikan dan motif yang berbeda. Agar kita selalu konsisten, kita perlu hati-hati dalam memfokuskan usaha demi tercapainya sasaran. Idealnya, kita melakukan suatu pekerjaan secara konsisten, baik dalam niat, motivasi maupun tujuan.

Beberapa waktu yang lalu, Majalah Nur Hidayah mewawancarai seorang narasumber, sebut saja namanya Ukhti. Mengenai konsistensi ini, Ukhti punya pengalaman yang panjang tentang bagaimana perjuangannya untuk tetap berjilbab meski keluarga awalnya tidak sepakat. Awalnya, Ukhti yang bertempat tinggal di Pati ini dibesarkan dengan didikan keras dari ayahnya.

Sampai akhirnya, dirinya duduk di bangku kelas satu SMA. Saat itu, seorang teman dekatnya telah terlebih dahulu mengenakan jilbab, maka mulailah terbersit keinginan untuk mengenakan jilbab. Namun, niat itu ditentang orang tuanya, terlebih oleh sang ayah. Tanpa ada perlawanan, Ukhti akhirnya mengurungkan niatnya.

Kelas dua SMA, keinginan mengenakan jilbab semakin besar. Sayang, hal itu masih kandas lagi lantaran ibunya memberi alasan bahwa dengan berjilbab, maka seluruh pakaian sekolah harus ganti. Apalagi, pada kelas satu SMA, ukhti menjadi pemenang dalam gelaran lomba Kangmas/Mbakyu tingkat sekolahnya. Dan pada kelas dua, sekolah berencana mengirimnya maju ke tingkat kabupaten, tetapi dirinya tidak bersedia dengan alas an ingin berjilbab. Namun, sampai kelas tiga, karena dirinya tetap tak berjilbab pula, masalah itu menjadi buah bibir di kalangan guru sekolahnya. Pernah ada guru yang menyindir, “Mana, katanya mau pakai jilbab?” Antara malu, putus asa tetapi berharap untuk segera mendapatkan jalan, Ukhti tetap menjalani hari-harinya dengan tegar.

Akhirnya, pada kelas tiga, dirinya berkesempatan mengenakan jilbab ketika les sore di bimbingan belajar. Menurutnya, hal itu merupakan kesempatan yang luar biasa. Maklumlah, dirinya tidak mempunyai seragam sekolah yang dapat digunakan sebagai pasangan jilbab.

Aktivitas tersebut terus berlanjut sampai akhirnya, dirinya dinyatakan lulus dari SMA. Demi membuktikan kepada para guru di sekolahnya, dia rela meminjam seragam adik kelas yang berjilbab ketika datang ke sekolah untuk tanda tangan beberapa berkas administratif. “Walau agak kekecilan, tetapi saya bahagia waktu itu,” terangnya bersemangat.

Pada tahun 2004, Ukhti akhirnya diterima di sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Surakarta. Selama masa awal kuliah, dirinya sering mengamati mbak-mbak yang berjilbab lebar yang banyak dijumpai di kampus tersebut. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, dirinya menjadi berkeinginan mengenakan pakaian muslimah secara sempurna, bukan seperti yang saat itu dia kenakan (celana panjang, kaos panjang dan jilbab yang hanya menutup kepala saja). Walau sering beradu argumen dengan ayahnya, tetapi memang dasarnya dia adalah anak yang patuh kepada orang tua, akhirnya niatan untuk mengenakan jilbab itu disampaikan kepada ayahnya melalui telepon. Ayahnya emosi tinggi dan melarang keras niat tersebut. Tak berapa lama berselang, ibunya meneleponnya dan menasehati agar ia telpon ayahnya untuk menyatakan bahwa dirinya batal berjilbab besar. “Saat itu, ibu bilang, ayah sudah siap menjemput saya dengan truk; sekalian memboyong saya pulang, tidak perlu kuliah lagi” kenang Ukhti.

Semua itu terjadi lantaran ketidakpahaman keluarga tentang ajaran berjilbab. Apalagi, pada tahun-tahun tersebut, isu teroris begitu gencar; dan Solo serta Sukoharjo ditengarai oleh publik sebagai pusat terorisme. “Saya agak jengkel, mau baik saja kok dilarang,” cerita Ukhti.

Lama berselang, lalu pada tahun 2007, Ukhti mendapat musibah kecelakan yang membuat dirinya masuk ICCU. Menurutnya, musibah itu adalah musibah membawa berkah. Pasalnya, selama terbaring di rumah sakit, mbak-mbak Ukhtilah yang merawatnya, menunggui dan mengurusnya. Mbak-mbak itu berjilbab besar, mengenakan pakaian muslimah sempurna. “Akhirnya, luluh juga hati ayah melihat kenyataan bahwa berjilbab tidak “seseram” yang pernah beliau bayangkan,” ujar Ukhti. Akhirnya, Ukhti diijinkan mengenakan jilbab selain jilbab berwarna hitam.

Ketika ditanya tentang keistiqomahannya, Ukhti menjawab bahwa Allah Maha Tahu. “Saya ini tipe orang yang semakin ditekan jutru semakin kuat memegang idealisme,” terangnya. Menurutnya, Allah memberinya jalan untuk lebih banyak belajar. Karena dengan mendapat tekanan-tekanan tersebut, dirinya termotivasi untuk memahami dalil baik dari Al Qur’an dan Hadits sehingga dia tidak asal bicara ketika ada orang yang mendebatnya.

Langgar Laweyan

Lain lagi dengan keistiqomahan Pak Burhan, seorang penjaga Langgar Laweyan yang yang beralamatkan di Jl. Dr. Radjiman Surakarta. Sudah 12 tahun lamanya Pak Burhan merawat langgar tersebut. Awalnya, langgar tersebut adalah langgar yang dihibahkan oleh saudagar batik, Mbah Haji Sapoan kepada masyarakat sekitar pada umumnya dan para musafir pada khususnya. “biar karyawan-karyawan bisa sholat di sini,” cerita Pak Burhan.

Lelaki berusia 50-an tahun ini menuturkan, bahwa langgar itu diamanahkan kepada ayahnya, Bapak Joyo Sumanto agar Pak Joyo menjadi imam shalat rawatib (shalat lima waktu-red). Setelah Pak Joyo meninggal tahun 1998 silam, Pak Burhanlah yang diamanahi menjaga langgar. “Dulu saya tinggal di Mangkuyudan, tetapi sekarang di sini atas pesan Bapak,” terang Pak Burhan.

Tiap hari, sejak 1998, Pak Burhan selalu membuka langgar yang awalnya sangat sederhana itu. Sedikit ataupun banyak orang yang sholat, secara terus menerus tanpa kenal lelah beliau urus langgar itu. “Walaupun bisa sholat di rumah sendiri, tetapi kan lebih baik ke langgar,” ujar lelaki yang rumahnya berada di samping Langgar Laweyan ini.

Namun, kondisi berubah setelah cucu dari Mbah Haji Sapoan memberikan dana renovasi langgar pada 2008 lalu. Langgar menjadi lebih rapi, tertata apik dan terkesan mewah. Mulailah warga sekitar aktif meramaikan langgar  pada waktu-waktu sholat. “Sekarang ada pengurus takmirnya, kalau dulu tidak ada,” kenang Pak Burhan. Kegiatan yang diselenggarakan pun lebih variatf, misalnya pengajian rutin sebulan sekali dan pangajian hari besar Islam.  Meski begitu, langgar ini tidak digunakan untuk mengerjakan Sholat Jumat karena kecil dan jamaahnya tidak tetap.

Mulai dari langgar ini belum “dianggap” masyarakat sampai saat ini, di mana langgar  ini telah menarik banyak perhatian, Pak Burhan masih tetap terlihat sederhana dan memegang kuat prinsipnya untuk senantiasa memakmurkan langgar. “Saya berharap, akan ada lebih banyak jamaah yang memakmurkan langgar  pada kesempatan mendatang,” harap Pak Burhan. (Ivn)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.