Rumit

“Kalau saja hidup ini mudah, maka tak kan ada yang kan menjadi pemenang.”

Status itu aku tulis di FB beberapa waktu yang lalu, setelah mengalami (lagi-lagi) masa perenungan yang panjang. (hufh, dasar melankolis). Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa hidup ini semakin lama semakin “memberatkan”, terutama segala yang berhubungan dengan konteks keduniaan.
Waktu kecil (mengingat ulang), hidup seperti tanpa beban. Pulang sekolah, balik ke rumah yang hanya 200 meter, lalu pergi bermain dengan teman-teman. Macam-macam mainannya. Ada “jalungan”, atau kalau dalam Bahasa Indonesia namanya petak umpet. Ada main kelereng, membuat mobil-mobilan berbentuk segitiga dari bambu yang diberi ban dari sandal jepit bekas yang dibuat bundar. Masih ada main layang-layang, sepak bola, kasti, petasan dari busi motor bekas, ketapel, tembak-tembakan dari kertas.

Terlebih lagi, karena listrik baru ada di rumahku waktu aku berumur enam tahun, jadi, pada masa itu tidak ada anak-anak yang bermain video game, menonton TV sampai lupa waktu, atau ngutak-atik handphone seperti anak-anak zaman sekarang. Mentok, paling main “gamebot”, aku juga tak tahu cara mengejanya.

Karena “terpaksa”, akhirnya imajinasi anak-anak seusiaku jadi berkembang. Bermain dengan mainan robot, lalu seolah mengarang cerita tertentu dan berbicara layaknya mainan itu bicara seperti cerita Satria Baja Hitam, Bicroser, Jiban atau Baikul dan Orta. Bermain dengan mainan seadanya. Pernah dibelikan robot-robotan yang menurutku waktu itu adalah mainan paling bagus yang pernah aku punya. (Cerita lebih lengkap, insya Allah akan segera hadir)

Masa itu kini telah pergi, perlahan berganti dengan masa-masa tambahnya umur. SMP mulai kos. SMA mondok (walau juga gak jadi tambah terlalu pinter). Kondisi-kondisi itu membuatku semakin realistis, bahwa tak selamanya aku akan jadi anak kecil yang bisanya hanya bergantung pada orang tua. Aku sadar itu, walau faktanya, masih memalukan, masih saja bergantung pada orang tua.

Melihat ke depan, suatu saat nanti, akan ada seorang yang memanggil, atau berkeluh,” Abi, beras di dapur hampir habis. Anak-anak besok makan apa?” Atau yang lebih menyakitkan, jika ada yang berkata, “Abi, belikan bakso dong, dedek pengen bakso.” Dan aku tidak bisa menuruti keinginan buah hati dan belahan jantungku itu….

Rumit

Politik, ekonomi dan sosial adalah tiga aspek masalah yang dalam bahasa sosiologi selalu terhubungkan untuk menganalisis kecenderungan sebuah masalah. Tidak dipungkiri, bahwa manusia akhirnya mengikuti nalusi kemanusiaannya untuk memenuhi ketiga kebutuhan itu dengan berbagai cara.

Waktu akan terus berputar, dan saat usiaku besok genap 22 tahun, akau akan semakin tersadar bahwa kehidupanku akan selalu berubah. Kehidupan kita semua akan berubah. Arah perubahan dengan motif-motif tadi akan bergerak sesuai dengan ego pribadi manusia. Apabila tak dikontrol, kelak hanya penyesalan yang akan kita alami.

Terus mengharap, bahwa akan ada hidup yang lebih baik bagi kita bersama, sehingga tak kan ada orang yang merasa kekurangan. Tak kan ada orang yang iri melihat orang lain karena dirinya tidak lebih buruk dari orang lain. Waktu terus berputar kawan, dan hidup semakin rumit. Hanya para pemenanglah yang akan survive dalam gejolak ini. Dan pilihan untuk menjadi pemenang atau pecundang, ada di tangan kita….

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.