(Surakarta) Aktivis mahasiswa akhir-akhir ini identik dengan aksi turun ke jalan mengkritisi kebijakan pemerintah yang pada sebagian orang dianggap hanya mengganggu ketertiban. Adapula yang menganggap bahwa para aktivis hanya melakukan “investasi” kekuasaan masa depannya dengan ikut aktif dalam gerakan mahasiswa. Tetapi, apakah memang benar bahwa semua mahasiswa memiliki paradigma seperti itu?
Gunawan, sebuah nama yang tidak asing bagi sebagian besar mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Benar, dia adalah mahasiswa yang saat ini menjabat sebagai Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS Surakarta. Mahasiswa Teknik Sipil Fakultas Teknik UNS angkatan 2005 ini terpilih menjadi presiden dalam Pemilu Mahasiswa September 2008 lalu. Pada Pemilu sistem multi partai yang berlangsung setahun sekali itu, Gunawan yang diusung oleh Partai Asmara UNS berhasil mengungguli empat calon presiden yang lain dengan perolehan suara di atas 2000 suara.
Lelaki kelahiran Cirebon 21 tahun silam ini adalah putra kelima dari tujuh bersaudara pasangan Ridwan dan Masrifatun. Dibesarkan dalam kehidupan keluarga petani miskin membuat Gunawan muda terus mengasah intuisi dan kepekaannya terhadap realitas sosial yang terjadi di masyarakat. “Dulu, Bapak sering tidak makan malam karena harus mengalah pada anak-anaknya,” kenang Gunawan saat diwawancarai di warung hik (hidangan istimewa kampung) belakang kampus UNS. Dia merasa ingin menjadi bagian dari perbaikan Indonesia karena pernah merasakan pahitnya menjadi orang tidak punya yang tercampakkan.
Sejarah pendidikan Gunawan biasa-biasa saja. Maksudnya, dirinya melewati SD selama enam tahun di SD Kaliwedi Kidul I, Cirebon. Pada waktu masih duduk di sekolah dasar ini, Gunawan bisa dikatakan sangat sering bolos sekolah. Alasannya bukan karena dia anak pemalas, tetapi karena harus membantu orang tuanya di sawah. “Terpaksa bolos kalau disuruh bantu di sawah,” kenangnya. Kemudian Gunawan melanjutkan ke SMP N 1 Gegesik, Cirebon. Setelah Lulus dari SMP, dirinya melanjutkan ke SMA N 1 Cirebon. Waktu SMA inilah Gunawan mulai merasakan jauh dari keluarga karena jarak rumah dengan sekolah sekitar satu jam perjalanan.
Tahun pertama duduk di bangku SMA, Gunawan yang saat itu masih berusia 14 tahun nyantri di Pondok Pesantren Muhammadiyah di Cirebon. Ketika nyantri ini, kegiatan-kegiatan keagamaan seperti sholat Tahajjud, dirosah dua kali sehari, hapalan Ayat Suci AL Qur’an rutin dilakukannya. Namun, karena tidak cukup biaya, akhirnya tahun kedua dirinya nglaju dari rumah ke sekolah. Barulah pada kelas tiga SMA, Gunawan kos lagi di dekat sekolah. “Waktu tahun ketiga, kerjaanya main-main, jalan-jalan ke mall, nonton bioskop gitu,” ceritanya. Walaupun begitu, Gunawan masih rutin puasa Senin-Kamis. Di samping karena ibadah sunnah, juga untuk menghemat pengeluaran jajan. Sholat berjamaahpun juga tak pernah ketinggalan walau sudah tidak nyantri lagi.
Mantan Ketua Kelompok Basket SMP N 1 Gegesik ini mengatakan bahwa mulai SMP sampai SMA dirinya selalu masuk 10 besar ranking di kelasnya. Pengalaman berorganisasi ketika duduk di bangku SMA antara lain adalah Wakil Ketua Rohaniwan Islam) ROHIS SMA N 1 Cirebon. Jabatan dalam struktur ROHIS yang bernama Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Iman tersebut didapatnya pada tahun 2004. Tidak hanya itu, Gunawan juga mendapat kepercayaan untuk menjadi wakil ketua Pansus (Pasukan Khusus), semacam Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) di SMA N 1 Cirebon. Di akhir masanya menempuh pendidikan SMA, ternyata pemuda yang suka bernasyid ini mendapatkan penghargaan dari Walikota Cirebon atas prestasinya dalam mata pelajaran matematika untuk Ujian Akhir Nasional.
Pemuda yang beralamat asal di Jalan KH. Zainal Mustofa Nomer 35 A, Desa Kaliwedi Kidul, Kecamatan Kaliwedi, Cirebon ini sebenarnya bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan pasca SMA-nya di Teknik Elektro Institut Teknik Bandung atau di Teknik Elektro Universitas Gajah Mada. Tetapi, karena biaya yang terlalu tinggi, maka akhirnya sesuai dengan keinginan kakaknya, dia dipilihkan Teknik Sipil UNS sebagai tempat menimba ilmu pasca SMA. Sehingga, akhirnya pada tahun 2005 yang lalu Gunawan mendapat status baru sebagai mahasiswa Teknik Sipil UNS.
Petualangan organisasi pemuda berpenampilan sederhana ini berlanjut ketika dirinya menjadi mahasiswa baru UNS. Beberapa training yang dilaksanakan di kampus ia ikuti sebagai manifestasi atas rasa keingintahuan dan rasa ingin menimba ilmu sebanyak-banyaknya untuk bekal kehidupannya. Di awal pengalamannya, dirinya bergabung dalam acara magang BEM Fakultas Teknik (FT) bagi mahasiswa baru. Di tahun pertamanya menjadi mahasiswa, setelah terjadi pergantian pengurus BEM FT, dia diangkat menjadi Kepala Dirjen Advokasi dan Hubungan Antar Lembaga BEM FT. Pada saat yang hampir bersamaan, lelaki low profile ini juga bergabung dengan Sentra Kegiatan Islam (SKI) FT, dan diamanahi menjadi staf Dana Usaha.
Tahun 2007, Gunawan mendapat kepercayaan untuk menjadi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) BEM FT UNS. Â Mulai dari sini, Gunawan mengakui bahwa mulai ada feel untuk mengatur, tidak hanya di departemennya saja, tetapi juga di departemen yang lain. Hal tersebut ternyata membawa ekses buruk bagi dirinya karena hubungannya menjadi tidak harmonis dengan presiden kala itu. Gunawan yang beberapa kali aksi turun ke jalan tanpa ijin dari presiden dicap berbahaya dan mulai mendapat tekanan dari presidennya.
Ada pengalaman menarik ketika Gunawan menjadi Mendagri BEM FT UNS. Suatu ketika, Gunawan ikut aksi turun ke jalan yang dilakukan oleh Forum Bersama BEM se-UNS. Ternyata, dia yang waktu itu hanya ikut-ikutan “tertangkap” kamera dan muncul dalam pemberitaan televisi swasta nasional. Alhasil, ibunya yang mengetahui hal tersebut memberikan hukuman berupa pemotongan “gaji” bulanan sebanyak 50 %. “Biasanya empat ratus ribu, tetapi hanya diberi dua ratus ribu,” kenangnya. Dari pengalaman tersebut, akhirnya Gunawan berjuang untuk mencukupi kebutuhannya dengan jalan berwiraswasta seperti menjadi broker jaket, pin, supplier makanan untuk kegiatan kampus dan lain sebagainya asalkan halal.
Konflik tersebut berkembang dan memuncak tatkala Partai Asmara UNS memberi tawaran kepada Gunawan untuk menjadi Calon Presiden BEM UNS tahun 2007 dari partai berlambang hati tersebut. Karena akhirnya Gunawan menerima tawaran tersebut, dirinya dipecat dari Menteri Dalam Negeri BEM FT karena dianggap oleh presidennya menyalahi kode etik BEM FT dengan maju menjadi Calon Presiden BEM UNS tanpa minta ijin terlebih dahulu kepada Presiden BEM FT.
Keluar dari BEM FT ternyata memberi efek yang besar kepada BEM FT sendiri. Pasalnya, dari 80-an pengurus BEM, hanya tinggal 13 orang yang tetap bertahan di sana. Selebihnya mengikuti Gunawan yang dipecat dengan mengundurkan diri dari kepengurusan BEM FT. Setelah dipecat ini, Gunawan sibuk menjadi Takmir Masjid Hidayatullah yang berlokasi di Gendingan, Jebres, Surakarta. Dirinya juga menjadi kepala sekolah Taman Pendidikan Al Quran (TPA) Hidayatullah. “Tiga sampai empat bulan saya off dari kegiatan kampus,” tutur Gunawan.
Akhirnya, Krisna Dwi Payana, Presiden BEM UNS terpilih 2007 memberi tawaran kepada Gunawan untuk menjadi Menteri Luar Negeri BEM UNS, dan Gunawanpun akhirnya kembali aktif dalam kegiatan organisasi kampus. Selama menjadi Menteri Luar Negeri (Menlu) BEM UNS, ada beberapa hal yang membanggakan baginya, di antaranya adalah membuat kontrak politik dengan Calon Gubernur pada Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2007 lalu.
Pengalaman sebagai Menlu BEM UNS tersebut akhirnya membuat Partai Asmara UNS memutuskan untuk mengusung Gunawan dalam pencalonan Presiden BEM UNS 2008. Pada Bulan Puasa, September 2008, sejarah mencatat bahwa Gunawan adalah Presiden BEM UNS terpilih untuk periode 2008-2009. Namun, dirinya baru dilantik oleh Dewan Mahasiswa (DEMA) pada Desember 2008.
Gunawan mengisahkan bahwa satu minggu sebelum pelantikannya, dia dengan beberapa pengurus BEM UNS aksi turun ke jalan. Waktu itu adalah agenda penghadangan Jusuf Kalla yang sedang melawat ke Surakarta. Karena aksi tersebut tidak mengantongi surat ijin dan Poltabes Surakarta, maka para peserta aksi diciduk dan dibawa ke Poltabes untuk diinterogasi. Selain ditangkap, mereka sempat digebuki polisi yang bertugas. Proses interogasi memakan waktu setengah harian. Mereka baru dibebaskan pada sore harinya dengan tanpa diberi makan dan tanpa diberi ijin untuk menunaikan Sholat.
Saat ini, BEM UNS yang digawangi oleh Gunawan ini mempunyai dua core gerakan, yaitu mengawal Pemilu 2009 dan melakukan infiltrasi budaya anti korupsi ke UNS. Namun begitu, beberapa agenda lain juga sudah terlaksana semisal tuntutan transparansi pengelolaan keuangan di UNS. Hal ini dapat dilihat dari bertambahnya akuntan-akuntan ahli di berbagai sektor di UNS.
Untuk agenda Pemilu, pada Pemilu Legislatif lalu BEM UNS telah menghadirkan caleg-caleg baik dari caleg DPR RI, DPRD I maupun DPRD II untuk dites komitmen mereka memperjuangkan aspirasi rakyat terutama untuk masalah undang-undang tipikor, pendidikan dan ekonomi. “BEM memang tidak membuat kontrak resmi, tetapi jaringan kita kepada mereka memungkinkan kita untuk melakukan follow up ke depan tentang kinerja mereka,” ungkap Gunawan.
Untuk Pemilu Presiden tanggal 8 Juli besok, BEM UNS yang tergabung dalam BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) akan membuat kontrak politik dengan ketiga pasangan capres-cawapres. Kontrak politik tersebut berisikan tujuh tuntutan rakyat atau sering disebut Tugu Rakyat. “BEM sudah meminta restu Walikota Solo Jokowi terkait dengan Tugu Rakyat ini, dan Jokowi merestui dengn ikut menandatangani Tugu Rakyat,” cerita Gunawan. Artinya, Tugu Rakyat juga adalah tuntutan rakyat Solo yang disuarakan bersama kepada capres-cawapres.
BEM SI telah bertemu langsung dengan Andi Malarangeng sebagai tim sukses SBY- Budiono, tim sukses Mega-Prabowo dan Yudi Chrisnandi (tim sukses JK- Wiranto). Pada deklarasi damai Pasangan Capres-Cawapres yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat di Jakarta, tepatnya di Menara Bidakara, 15 orang perwakilan UNS dan 1500 mahasiswa dari seluruh Indonesia datang bersama untuk mendesak pasangan capres dan cawapres menandatangani kontrak politik. Acara BEM SI tersebut dimulai dengan berorasi di Bundaran HI, kemudian ke KPU Pusat dan dilanjutkan ke Menara Bidakara. Tetapi kontrak tersebut belum ditandatangani oleh satupun pasangan Capres-Cawapres sampai saat ini.
Selain yang dilakukan bersama BEM SI, BEM UNS juga telah melaksanakan kontak dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar dapat memberikan pelajaran anti korupsi bagi mahasiswa UNS. Tahap awal yang akan dilakukan adalah sebuah launching program dengan metode kuliah umum bagi mahasiswa baru 2009. Hal yang masih menjadi diskursus antara BEM dengan Bidang Kurikulum UNS yang dipimpin Rafik Karsidi adalah apakah pendidikan anti korupsi akan menggantikan mata kuliah Pancasila atau menambah mata kuliah baru?
Sebelumnya, BEM UNS telah mengadakan road show ke tujuh SMA/SMK di Solo dan Karanganyar untuk memberikan pandidikan anti korupsi bagi siswa. Acara tersebut langsung diisi oleh anggota KPK dari Jakarta. Selain itu, telah diadakan program “Seminggu Bersama KPK”. Acara ini berbentuk kunjungan dari mall ke mall, inspeksi mendadak pada tujuh instansi yang mencakup instansi perijinan Kota Surakarta, Satlantas, Samsat, Rumah Sakit Umum dr. Muwardi dan beberapa instansi di Karanganyar dan Sragen. Terdapat pula acara nonton film tentang penanganan korupsi di sekitar Stadion Manahan pada malam Minggu. “Banyak remaja yang nongkrong-nongkrong dan pacaran di sana,” tutur Gunawan. Dalam acara tersebut, BEM dan KPK membagi-bagikan marchendise dari KPK.
Pada 27 Juni nanti, BEM UNS bekerja sama dengan KPK akan mengadakan agenda liburan bareng KPK. Acara yang akan berlangsung di SMA N 4 Surakarta direncanakan akan dimeriahkan dengan band-band musik SMA, lomba futsal “kejujuran”, warung “kejujuran”, games dan lomba-lomba bernilai anti korupsi.
Ditanya tentang motivasi yang mendorong Gunawan untuk aktif dalam dunia pergerakan mahasiswa, dirinya menyatakan ada dua alasan mendasar yang dapat ia sampaikan. Pertama, apa yang dilakukannya sampai saat ini adalah upaya untuk menguji, sampai di mana kemampuannya dalam hidup ini. Kedua, latar belakang kehidupannya yang keras membuatnya merasa bahwa ia harus berjuang demi masyarakat yang tertindas.
Sejak kecil, dia mempunyai cita-cita untuk menjadi orang yang berperan dalam perkembangan sejarah Indonesia. Di sisi lain, tekad tersebut “membaja” karena “dibesarkan” oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang mengajarkan idealisme dan konsistensi dalam perjuangan. Pemuda yang berencana untuk studi lanjut ke Jurusan Manajemen atau Hukum ini ingin membuktikan bahwa tidak semua aktivis mahasiswa terjun sekedar untuk mendapat kekuasaan semata. Ia ingin menjadi tokoh muda yang idealis dan tidak menggadaikan dirinya untuk pragmatisme keduniaan. “Allah telah memilihkan jalan ini, Allah yang Maha Tahu,” ucap Gunawan mengakhiri perbincangan.